Akibat COVID-19, Perayaan Natal dan Tahun Baru di Uni Eropa Akan Berbeda

Akibat COVID-19, Perayaan Natal dan Tahun Baru di Uni Eropa Akan Berbeda

Hadirnya musim dingin membuat pemerintahan Uni Eropa waspada pada penebaran COVID-19. Kesemarakan acara Hari Natal dan Tahun Baru 2021 di benua biru turut terimbas. Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Igor Driesmans, menyebutkan rumor Natal adalah hal peka dan setiap negara Eropa mempunyai ketentuan berlainan. Tidak ada ketentuan yang larang perayaan Natal dan Tahun Baru, walau ada limitasi ketat.

“Negara rumah saya Belgia sudah umumkan jika seorang dapat rayakan Natal dan Tahun Baru di dalam rumah, tapi banyaknya orang yang bisa diundang ke rumah sangat terbatasi,” tutur Duta besar Driesmans pada briefing medium, Rabu (2/12/2020).

Selama ini, Uni Eropa tidak mempunyai legislasi spesial berkenaan perayaan Natal dan Tahun Baru di tengah-tengah wabah COVID-19. Semasing negara mempunyai ketentuan berlainan berdasar kurva penyebaran. Namun, Driesmans menyebutkan telah ada limitasi seperti jam malam. Operasional restaurant terbatasi atau ditutup lebih cepat di beberapa negara Eropa. “Jadi ini tidak jadi Hari Natal dan Tahun Baru seperti awalnya,” tutur Duta besar Driesmans yang mengharap keadaan akan lebih baik tahun depannya.

Korea Selatan (Korsel) mempererat ketentuan social distancing mereka untuk menahan COVID-19. Acara pesta tahun baru sekarang tidak boleh.

Tingkat waspada di Propinsi Gyeonggi dan Incheon yang ada di seputar Seoul sekarang naik jadi tingkat 2. Awalnya, Seoul juga naik ke tingkat 2. Busan jadi naik ke tingkat itu.

Berdasar laporan Yonhap, Selasa 1 Desember 2020, tingkat social distancing di dua daerah itu naik sepanjang 1 minggu. Mengakibatkan, tempat sauna, mandi uap, dan tempat gym ikut juga tidak boleh sepanjang masa itu.

Pemerintahan ikut akan larang hotel, ruangan acara pesta, dan guesthouse untuk rayakan pesat-pesat tahun baru. Ini mempunyai tujuan supaya virus tidak menyebar di kelompok anak muda.

Pada tingkat 2 di mekanisme Korea Selatan, pernikahan dan tempat penyemayaman harus membatasi pengunjung sampai 100 orang. Cafe cuman bisa pesan antar, sesaat restaurant tidak bisa terima pengunjung habis jam 21.00.

Masalah COVID-19 di penjuru dunia capai 63,7 juta. Beberapa negara di Eropa bahkan juga mulai kembali lagi berlakukan lockdown, sesaat Turki alami kenaikan masalah.

Berdasar data Johns Hopkins University, Rabu (2/12/2020), masalah paling tinggi masih ada di Amerika Serikat dengan 13,7 juta masalah. Kematian paling tinggi ada di Negeri Paman Sam dengan 270 ribu orang wafat.

Beberapa negara yang menulis masalah tinggi yang lain masih sama dengan awalnya, yaitu India (9,4 juta), Brasil (6,3 juta), Rusia (2,3 juta), dan Prancis (2,2 juta).

Beberapa kasus di Eropa terlihat sedang bertambah. Telah ada enam negara Eropa yang masalahnya tembus sejuta. Angka itu mempunyai potensi makin bertambah sebab Polandia sudah menulis 999 ribu masalah.

Akhir-akhir ini, Turki mendapatkan sorotan sebab langkah penghitungan yang berbeda. Angka masalah harian juga semakin banyak. Terbaru, Turki mempunyai 668 ribu masalah.

Di Indonesia, masalah capai 543 ribu masalah. Status Indonesia sekarang ada di Chile dan Belanda. Sesaat, masalah di China masih konstan di range 92 ribu.

Satu rumah sakit regional di kota Krasnodar, Rusia Selatan, memvaksinasi staff-nya ketika mau tangani kenaikan banyaknya pasien Covid-19.